Ebiet G Ade dan Doa Pengemis

Bilamana ada yang tak pernah aku sampaikan langsung kepada kedua orang tua saya berupa ucapan terima kasih, maka itu adalah terima kasih karena sedari kecil telah mengenalkan lagu-lagu Ebiet G Ade.

Dari Camelia, Kupu-Kupu Kertas, Menjaring Matahari hingga Elegi Esok Pagi menjadi familiar karena Ayah Ibu sering memutarnya melalui CD-Player kala itu.

Kala itu, aku suka saja dengan suara dan karya musik Ebiet G Ade, walau sepenuhnya tak belum memahami makna-makna nyanyiannya. Seiring kemudian aku dewasa dan mengenal Youtube, barulah kemudian aku menemukan sebuah lagu yang sedalamnya membuat hatiku haru.

Adalah Nasihat Seorang Pengemis Untuk Istri dan Anaknya yang sedari pertama mendengar, telah menggoreskan kesan yang mendalam hingga menorehkan pengertian makna yang baru bagiku. Sepenggal bait dari lirik lagunya membuatku tertegun sekaligus berpikir keras bagaimana Ebiet menemukan sumber inspirasi kalimat yang sederhana namun memiliki kedalaman makna dan hidup sebagai estetika.

Nyanyinya :

“Tuhan, selamatkan istri dan anakku

Hindarkanlah mereka dari iri dan dengki

Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan.”

Bait lirik dari lagu — Nasihat Pengemis Kepada Istri — inilah yang bila aku ibaratkan seperti air yang jatuh membahasahi tanah yang kering, saat kali pertama aku mendengarnya. Kenapa? Karena aku sendiri bahkan tak pernah terpikir, bahwa seorang pengemis yang dari bait pertama nyanyi Ebiet, digambarkan hidup kesusahan, anaknya lapar, dan jalan hidup yang tak pasti, justru berdoa kepada Tuhan bukan memohon keselamatan keluarganya dari kemiskinan dan kelaparan.

Dengan lirih dan menegarkan hatinya sendiri dari ketidakmampuan, ia justru berdoa :

“Tuhan, selamatkan istri dan anakku

Hindarkanlah mereka dari iri dan dengki

Kepada yang berkuasa dan kenyang di tengah kelaparan.”

Seorang pengemis dalam nyanyian Ebiet digambarkan sebagai jiwa yang lapang dada, menyentuh hati karena mengerti bahwa penyakit hati lebih mudah menjakit tatkala keadaan lapar. Sekaligus percaya bahwa soal lapar, Tuhan akan memberikan jalan keluarnya meski tanpa dipanjatkan doa. Tuhan memelihara mereka, sebagaimana kalimat Pengemis kepada istrinya :

Istriku, marilah kita berdoa

Sementara biarkan lapar terlupa

Seperti yang pernah Ibu ajarkan

Tuhan bagi siapa saja

Meskipun kita pengemis pinggiran jalan

Doa kita pun pasti Ia dengarkan

Iri dan dengki, penyakit hati itu, justru adalah kekhawatiran utama bagi pengemis, meminta Tuhan menyelamati keluarganya dari perkara itu.

Adakah kekhawatiran yang lebih indah dari perasaan mawas diri untuk melindungi diri dan keluarga dari perasaan-pikiran yang dapat menenggelamkan diri pada kegelapan jiwa dan hilangnya rasa syukur karena mempermasalahkan, menyoalkan ketidakpedulian orang, keburukan orang?

Sungguh terima kasih untuk sebuah lagumu, Ebiet.

Advertisements

Tentang Pitutur

Pernah aku berpikir ingin menyembunyikan Pitutur. Jauh dari ramai yang menandaskan keheningan. Pikiran demikian datang bukan sebagai pengelola kedai, melainkan sebagai individu yang ingin menikmati waktunya bersama sudut-sudut dan benda-benda yang ada di ruang.

Sendiri. Menikmati waktu demi waktu yang diberi untuk menghayati satu dua kemungkinan. Untuk menelusuri satu dua halaman buku. Untuk mendengarkan satu dua concerto atau sonata.

Aku memiliki angan, di masa lampau di mana kesendirian adalah teman baik, berada di ruang seperti Pitutur pasti akan menyenangkan. Ada keheningan yang bersahabat, ada sepintas kehangatan di tegur sapa permulaan, berada di sekitar buku-buku, sekaligus secangkir kopi yang aku gemari.

Entah karena aku yang kurang teguh berusaha untuk menemukan ruang yang aku angankan, atau memang demikian adanya tak kutemui ruang yang aku angankan berada di Jogja, maka aku menyusunnya. Secara bertahap.

Meski kemudian, di perjalananku bersama Pitutur ada banyak hal yang berubah jauh dari dugaanku sendiri. Awalnya, aku ingin fokus menyediakan buku-buku dan secangkir kopi atau minuman hangat dan dingin lainnya untuk kusajikan sebagai bagian dari upaya untuk menjalankan kelangsungan hidup Pitutur. Sederhana sekali.

Rupanya, kopi memikat pula perhatianku untuk lebih terus dekat dan mengenalnya setiap hari. Bahkan waktu yang aku bayangkan, misalnya untuk membaca buku-buku sastra, kini lebih banyak aku gunakan untuk belajar mendalam tentang kopi, baik teknis dan literasi-literasi yang masih mungkin aku akses.

Kehidupan bersosial pun kini lebih dekat kepada pelaku kopi. Hal ini tak lain juga karena ketertarikanku pada kopi yang membawa perkenalanku dengan satu dua orang pelaku kopi di Jogja. Makin jauh dari komunikasi sosial bersama para penggemar sastra, para seniman dan musisi.

Barang kali memang demikian jalan yang harus dilalui. Perasaan suka dan bahagia mempelajari kopi, membawa perjalanan baru yang sebelumnya tak pernah aku angankan bakal serumit dan menuntut detail yang lebih jauh.

Aku bahagia, karena pendekatan ini semua seperti pendekatan saat aku berproses di musik klasik. Satu hal yang pasti yang aku peroleh dari perjalananku bersama biola dan musik klasik, bahwa yang tekun berlatihlah yang akan terseleksi untuk tampil di orkestra-orkestra impian. Begitupun kopi!

SUNGGING

IMG_1400

Membaca Novel Sungging karya Alan TH adalah membaca sejarah Kerajaan Singhasari dan Kerajaan Majapahit. Penuturan kisah dilakukan oleh dua tokoh dari masa yang berbeda namun masih saling berkaitan. Bercerita dalam cerita, begitulah saya menyebutnya.

Adalah Rsi Sanghika yang bercerita perihal Kerajaan Singhasari hingga peralihannya menuju Kerajaan Majapahit dan Sungging yang bercerita tentang kisahnya membuka kekelaman dari Kerajaan Majapahit dan membebaskan hidupnya dari perburuan.

Pada permulaan cerita saya merasa akan membaca novel yang dipenuhi adegan pertarungan sekaligus menduga bahwa alur cerita akan berkisar tentang pemuda yang akan menempuh olah kanuragan. Namun rupanya, bab-bab berikutnya adalah sebuah cerita yang dituturkan Rsi Sanghika, orang pertama yang secara kebetulan bertemu dengan Sungging setelah melewati masa-masa pelarian bersama kakeknya dari perburuan para pendekar.

Berkisah Rsi Sanghika, tentang Raja Singhasari, yaitu Sri Kertanegara. Baik kehidupan kesehariannya, kebijakannya, tata kuasanya hingga karya akhirnya yang ia cipta melalui proses taat pada tantra kiri. Sebuah kitab yang bernama Kitab Begawan Ksatria.

Alur cerita novel ini terbaca dengan ringan dan menyenangkan. Misteri-misteri terpecahkan dengan pengungkapan keterkaitan sejarah antar tokoh dengan baik dan mengalir. Tokoh-tokoh utama seperti Sri Kertanegara, Raden Wijaya hingga 13 ksatria yang setia pada Raden Wijaya terbaca cukup dekat melalui karakter dan keahliannya masing-masing. Sebut saja Rangga Lawe, Lembu Sora, Pamandana, Bunabasa, dan nama-nama lainnya tidak sepintas lalu saja mengisi cerita.

Siasat, peperangan, dan pengkhiatan terjadi berulang kali. Hingga dalam tuturan Rsi Sanghika, sebagai pembaca anda dapat merasakan pentingnya pustaka. Mencatat dan menjadi panduan agar tidak mengulangi kesalahan, selain pula catatan-catatan kejayaan untuk ditinggalkan kepada generasi penerusnya. Kitab Begawan Ksatria pun menjadi sumber persoalan yang kemudian menyangkut pula sejarah hidup sang Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.

Menyoal Gajah Mada, novel ini menampilkan sisi lain Gajah Mada, bahwa jasa-jasa besarnya terhadap Majapahit adalah siasat belaka, menghalalkan berbagai cara atas nama impian Sri Kertanegara dan atas nama kejayaan Majapahit.

Bila anda rindu membaca cerita raja-raja dan pikiran-pikiran yang menjadi dasar Negara sekaligus sebab pengkhiatan dan kehancuran, novel ini salah satu yang mengasyikan untuk dibaca.

 

Ah Cuma Kopi

2EABF192-D003-40B8-B29C-FB02FA2EF874

Di kemudian hari saya mengerti dan saya menasehati diri saya untuk tidak pernah sekali-kali berkata,”Ah, cuma kopi.”

Wawasan adalah titik mulanya. Bukan karena saya berwawasan luas soal kopi, tapi justru setiap wawasan baru yang saya peroleh menimbulkan banyak pertanyaan dan menunjukkan bahwasannya pengetahuan saya soal kopi sangatlah dangkal.

Hal-hal soal kopi tak lagi selesai dan mungkin tiada pernah selesai. Informasi terbaru kopi baik dari percakapan ataupun membaca selalu saja menyisakan ketidaktahuan. Semua proses berlangsungnya segelas kopi mungkin ringkas bilamana diceritakan dalam beberapa paragraf. Namun pada prakteknya, ketekunan, ketelitian, kecermatan, kesabaran, kewaspadaan dan berbagai kata kerja yang menuntut kinerja maksimal dari inderawi manusia adalah suatu hal yang pasti meski saat ini hanya sebatas awang-awang.

Karenanya, betapa diri ini tidaklah cukup nyata untuk berkata,”Ah, cuma kopi.”

Rangkaian hidup terjalin berpilin menyebar menjadi rezeki bagi orang-orang yang berkecipung di dalamnya. Pemilik kebun, petani, processor, tengkulak, roaster, pemilik coffee shop, pemilik pabrik kopi, buruh pabrik, barista, penjual angkringan, orang-orang pasar, dan mereka yang kiranya luput belum saya tuliskan terjalin dalam rezeki dari hasil bumi.

Entah itu besar ataupun kecil jumlah produksi, rezeki yang menghidupi tetaplah rezeki yang patut disyukuri. Bukankah semuanya memiliki arti karena manusia memaknai?

Sedikit gamblang bagi saya memikirkan kopi laiknya jiwa manusia. Padanya ada laku hidup, yang membawa segenap macam rasa karena alam yang membentang di hidupnya. Catatan-catatan anak manusia menyebutkan bahwa aneka rasa yang terbawa oleh suatu kopi dari daerah asal tertentu dipengaruhi unsur tanah, kualitas air, varietas, iklim, ketinggian ia berada hingga tanaman-tanaman di sekitarnya. Hal ini pula yang menjadikan aneka kopi dari berbagai daerah dapat memiliki pembawaan rasa yang berbeda-beda.

Inilah kemiripan kopi dengan rasa dan pikir manusia. Ragam rasa dan pikir manusia aneka rupanya. Antara negara satu dengan negara lain, dapat berbeda cara berpikir yang melahirkan budaya yang berbeda pula. Negara beda benua, beda iklim, dapat memiliki pemikiran dan ciri fisik yang macam rupanya. Kekayaan dari bumi yang membentang luas bila hendak kita melakukan perjalanan menjelajah satu demi satu.

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.” tulis Pramoedya Ananta Toer

Begitupun saya kira dengan kopi. Namun, mengingat saya sedang membaca novel Sungging karya Alan TH, sebuah kalimat nasihat dalam novel itu saya tuliskan sebagai pengingat diri ketika membaca tulisan itu kembali ; “Jika engkau bertekun, pastilah bakal menemukan sesuatu yang mencerahkan. Ingat saja, menekuni satu perkara, akan meraih segala-gala.” [Rsi Sanghika]

Kopi dan Kehidupannya di Yogyakarta 2018

Sebuah pertanyaan permulaan : Akan seperti apakah angin perkopian di Yogyakarta pada tahun 2018 ini?

Beberapa peristiwa baik berupa hajatan besar dan tumbuhnya kedai-kedai baru boleh dijadikan selayang pandang mengukur kecepatan angin dan arah yang ditujunya.

Hal-hal yang terjadi sebelum awal tahun, misal sedekah alam yang digagas oleh Klasik Beans dan BKVR Yogyakarta di lereng Gunung Merapi yang letaknya di Klaten menunjukkan bahwa rupanya apresiasi Jogja, yang di dalamnya meliputi banyaknya kedai, tingkat daya beli, juga aktifitas komunikasi baik kepada koperasi dan petani tak luput dari pantauan korporasi kuat seperti Klasik Beans yang memiliki aneka khazanah kopi indonesia yang berkualitas.

Sebelum itu, tentu saja, catatan yang tak boleh luput dari tulisan ini adalah kemenangan Damaring Kalpika pada Indonesia Aeropress Championship 2017 yang notabenenya berasal dari Yogyakarta menjadi angin segar bagi pandangan bahwa geliat kopi di Jogja yang sudah berlangsung beberapa tahun belakangan dapat membuahkan hasil dan sekaligus memberi kekuatan magnet untuk terus berkembang.

Berikutnya, secara fisik muncul pula kedai-kedai dengan brand yang sudah lebih dahulu ada di Ibukota. Serta merta brand ini membawa kekuatan modal dan kecakapan teknis sekaligus orientasi bisnis yang boleh dikatakan terukur. Beberapa di antaranya, mengusung kecanggihan teknologi di meja bar seperti hadirnya mesin-mesin espresso yang selama ini baru saya lihat di instagram saja. Rupa-rupanya, mereka tak luput dan berkenan hadir meramaikan perkopian di Jogja.

Tentang kopi? munculnya kopi-kopi dengan varietas tertentu, produksi dari negara-negara Afrika, juga roasted bean sangraian roaster ternama Eropa, Australia, Amerika dan Jepang di tahun 2017 dan sebelumnya menjadi signifikasi semacam keinginan berpetualang menyoal rasa kopi. Beberapa kesempatan juga berjumpa dengan kopi yang memperoleh penghargaan, atau mendengar langsung dari teman yang pernah mencicipinya. Adalah fakta bahwa kopi-kopi dari varietas tertentu, origin tertentu, roaster tertentu dapat terbeli di harga 85ribu-100ribu. Bagi saya pribadi, hal ini cukup mengejutkan karena dalam pengalaman saya, mayoritas penggemar kopi origin adalah mahasiswa.

Sejauh Mana Peran Penyeduh Kopi?

chika simetri

Ini adalah catatan pertama saya perihal pekerjaan baru yang sedang saya lakoni hari demi hari sebagai penyeduh kopi. Kurang lebih sembilan bulan saya menjalani pekerjaan ini. Sudah barang tentu masih jauh dari harapan untuk dapat disematkan sebagai profesi saya. Meski demikian, terima kasih semesta beserta jiwa-jiwa baik di dalamnya yang telah mengenalkan dunia yang asing ini.

Perlahan, saya mulai menemukan materi-materi yang dapat saya kembangkan sebagai tulisan. Namun, sebagai pembuka, pembahasan tentang kopi barang kali masih sebatas permukaannya saja. Mengingat keterbatasan wawasan yang saat ini saya punya. Meski demikian, semuanya tetap bertolak pada satu titik utama, yaitu kopi.

Seberapa penting peran penyeduh kopi atau yang lebih dikenal dengan sebutan barista dewasa ini? Melihat perkembangan kopi yang semakin marak menyajikan single origin dengan proses manual brewing, maka penyeduh kopi memiliki peran penting dan strategis. Tentu peran utama dalam pekerjaannya adalah menyajikan kopi sebaik dan seenak mungkin. Maka untuk memenuhi harapan agar dapat tersaji kopi yang enak, sang penyeduh kopi membutuhkan wawasan dan pengalaman atas variabel-variabel yang menentukan hasil seduhan terbaiknya. Secara umum, variabel tersebut meliputi air yang digunakan, suhu air, profile roasting, ukuran grind size, teknik pouring, rasio dan banyak lagi.

Melakukan serangkaian pendekatan terhadap kopi juga sangat perlu untuk mewujudkan segelas kopi yang nikmat. Maka penyeduh kopi perlu untuk melakukan eksprimen melalui perubahan variabel-variabel di atas. Pendekatan ini adalah sebuah proses untuk mengenali kopi yang tersedia di meja bar, dengan satu tujuan, mengeluarkan potensi terbaik dari kopi yang ia hadapi.

Berikutnya, peran penting lainnya adalah cakap dalam menyampaikan informasi atas kopi yang tersedia. Ini layak disebut sebagai presentasi. Maka seorang penyeduh kopi yang cakap patutlah menguasai materi atas kopi yang tersedia di meja bar. Mengapa demikian?

Kita harus bertolak kembali pada kata single origin. Kata ini memegang peran kunci mengapa kemudian seorang penyeduh kopi patutlah untuk cakap dalam menyampaikan informasi perihal kopi yang tersedia di meja bar. Secara sederhana, single origin kopi berarti : yang berasal dari satu produsen, misalnya satu perkebunan atau satu wilayah penghasil kopi.

Andra Vlaicu dari SCAE menggarisbawahi bahwasannya salah satu hal terpenting dari single origin adalah keterlacakan. Bahwa dalam single origin perlulah fakta bahwa ia murni berasal dari satu produsen, satu asal, tidaklah blend. Satu asal ini memberikan kesempatan untuk mengetahui kualitas kopi dari satu perkebunan dengan perkebunan yang lain. Hal ini dapat tercermin dari karakteristik dan kualitas rasa dari kopi. Maka dari sini, kemudian apresiasi terbentuk.

Oleh karenanya, penyeduh kopi akan menjadi lebih syahdu bilamana ia menguasai materi informasi perihal asal-usul kopi yang ada di meja barnya. Siapa produsennya, petaninya mungkin, processor-nya, hingga roaster-nya. Dengan demikian, secangkir kopi yang tersaji di hadapan customer dapat terlacak asal-usulnya, dan hal ini merupakan wujud dari apresiasi. Yaitu customer mengenal dan merasa dekat dengan orang-orang serta wilayah penghasil kopi tersebut melalui secangkir kopi yang ada pada genggamannya.

Semakin penting, apabila yang dihadapi ialah pengunjung yang kali pertama akan mencicipi kopi single origin. Memberikan kesan yang baik sehingga membuat pengunjung tersebut mengapresiasi dan menghargai segelas kopi yang ia pilih melalui kecakapan menceritakan informasi adalah upaya penting. Hal ini dapat membuka peminum baru single origin, bertambahnya peminum baru dapat meningkat permintaan single origin. Baru kemudian di level berikutnya dapat mungkin terjadi, apresiasi kualitas kopi meliputi rasa, aroma, after taste, dll dapat berlanjut seiring meningkatnya level apresiasi.

Taruhlah penyeduh kopi memiliki kopi-kopi yang dikenal nikmat semisal kopi-kopi Ninety Plus Coffee, apakah lantas serta merta customer yang baru kali pertama akan memesan dan meminum kopi single origin mereka dapat mengetahui keseluruhan asal-usul, proses yang dilalui, si kopi, sampai menjadi begitu terkenal enak, dan mungkin dengan harga yang mahal? Sekali lagi kecakapan sang penyeduh kopi dibutuhkan untuk melakukan presentasi ini. Mencari celah halus agar bisa masuk dengan tanpa paksaan, apalagi jika customer tersebut memiliki latar belakang panjang sebagai peminum kopi yang bukan single origin.

Dari sini, efek berantai dapat berlanjut. Sebuah proses untuk mencapai kopi yang nikmat akan terus berlangsung, karena kelangsungan informasi dan permintaan masyarakat.

Pekerjaan terampil dan tekun dari para produsen, petani, processor, roaster dapat terapresiasi oleh kecakapan para penyeduh kopi. Ini adalah sebuah rangkaian gerbong kereta yang menuju satu tujuan, kopi yang nikmat untuk para penikmatnya.

 

Album Fotomu

Yang membeku adalah momen. Sepenggal cerita yang meniti waktu dan direngkuh lensa. Untuk kemudian diam, kemudian tersimpan.

Di sebuah laci tersimpan beberapa tumpukan buku. Di dalam buku itu, tersusun foto-foto dari ruang waktu yang berbeda. Kertas itu dingin, menguarkan bau yang samar melapuk. Inilah cenderamata waktu. Kenang-kenangan dari berbagai peristiwa yang telah tersusuri.

Banyak di antaranya, menyimpan bahagia. Agaknya, perasaan bahagia patutlah disimpan, meski itu adalah sebuah kalimat dari cerita panjang yang belum usai. Lihatlah, sebuah keabadiaan di kala zaman masih begitu menghayati kebersamaan. Ini kelahiranmu, hari di mana Ayah dan Ibumu begitu berbahagia hingga tak lupa untuk mengabadikannya. Ini hari ulang tahunmu, setelah sekian waktu Ayah menabung agar kamu memperoleh pesta kecil yang kamu harapkan pada malam-malam menjelang tidurmu. Ini liburanmu, ketika kebun binantang masih asing dan terasa mewah untuk dikunjungi. Ini pantai pertamamu, dan lihatlah senyummu, ada ragu dan takut saat menaiki kuda untuk kali pertama.

Foto di album yang tersimpan di laci dan mulai berdebu terasa hangat saat jari jemari menyentuhnya. Ia bawakan, segenap keinginan, untuk abadikan bahagia. Untuk menghangatkan ingatan, tentang kasih dan cinta yang telah kamu terima. Foto itu, jauh dari keinginan untuk tampil mengesankan. Ia hanya memegang mandat dari sang pemegang kamera, saat kamu menangis, saat kamu berbahagia, abadilah. Agar, kelak, senyummu mengembang, hatimu menghangat, ketika secara tidak sengaja, kamu membuka kembali lembar demi lembar halaman album fotomu.

Kenangkanlah sepenggal puisi Sapardi :

Ada yang sedang diam-diam menulis riwayat hidupmu

menimbang-nimbang hari lahirmu, mereka-reka sebab-sebab kematianmu

Ada yang sedang diam-diam berubah menjadi dirimu

(Metamorfosis)