Cukup & Tiada

All the shine of a thousand spotlights
All the stars we steal from the nightsky
Will never be enough ., never be enough.” (Never Enough – Loren Allred)

Aku menanam bunga di halaman rumahmu. Juga beberapa tanaman yang kiranya akan serasi di saat musim semi.

Aku ingin kau menikmatinya, di suatu pagi yang membasah karena sisa embun, saat kau membuka jendela kamarmu yang menghadap ke terbitnya cahaya timur.

Bila semua sesaat itu membahagiakanmu, maka kepingan pagi di halamanmu kuharap menjadi pengertian bahwa setiap permulaan akan segera menemukan pasangan terbaiknya, yaitu yang terakhir, yang mengakhiri, untuk yang pernah ada lantas menjadi tiada.

Hanya kepada tanaman dan bunga itu aku merasa segala hal terangkum begitu jelas di dalam sela-sela nafas. Aku ingin kita dicukupkan seperti mereka. Yang tumbuh dan berbunga menerima takdir baiknya. Yang diam dan teduh bagi hidup di sekitarnya. Yang pertama menerima panas dan tak bergeming untuk kemudian terus mengolah. Yang mengembalikan segala kepekatan menjadi kejernihan dan kesejukan udara. Dalam diam dalam diam dalam berdirinya yangbtak beranjak juga keyakinan dicukupkan menerima hidup.

Yang menerima kematian yang menerima perpisahan yang menerima tunas baru tanpa kekhawatiran terlupakan juga tanpa perduli tanda penghormatan perjalanan.

Aku ingin dicukupkan seperti Tuhan mencukupkan sela-sela jemari kita supaya kita dapat bergandeng tangan. Aku ingin dicukupkan seperti akar yang memeluk tanah dalam janji purba untuk saling menguatkan dan memberi hidup kepada mereka yang bergerak.

Sebelum akhirnya tunai sudah, Janji-janji hidup untuk tumbuh memberi juga bahagia di hari-hari yang tiada. Juga ketiadaan bagiku dan bagimu ❤️

Advertisements

Suatu Ketika Karena Kopi

– Semilir di Selatan –

Nama panggilannya Kai.

Ia seorang barista. Sudah 4 tahun ia menggeluti dunia kopi. Kai menyulap sebuah ruang rumah dan pelataran kecil menjadi kedai kopi. Kai memberi nama kedai kopinya ‘Semilir di Selatan’. Aku sengaja menggunakan kata sulap karena menurutku kata itu satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan kreatifitas Kai yang tercermin dari ‘Semilir di Selatan’.

Rumah itu hidup sebagai kedai kopi senafas dengan kinerja Kai menyeduh dan meracik kopi. Semua yang cermat dapat mengerti bahwa setiap keberadaan benda baik di ruang rumah atau pelataran kecil itu ada untuk tak menjadi sia-sia. Tanamannya, lampunya, meja kursi yang jumlahnya tak genap 12, pemilihan gelasnya, letak alat-alat seduhnya, hingga peletakan mesin sangrainya.

Semua yang kembali tak pernah mengeluhkan betapa sempit ‘Semilir di Selatan’ apabila dibanding kedai-kedai lain. Semua yang kembali tak pernah menyayangkan larangan dilarang merokok di ruang atau pelataran ‘Semilir di Selatan’. Semua yang datang mengerti benar bahwa yang mereka cari di ‘Semilir di Selatan’ adalah kopi. Secangkir, dua cangkir atau lebih yang diracik oleh Kai sendiri. Tiada lain, tiada harapan lain selain meminum kopi.

Kepribadiannya tenang. Sebuah ketenangan yang mampu memberi arah kepastian. Ia pribadi yang tak cukup vokal dan jarang muncul kecuali di acara-acara kopi yang mengundang Kai agar terlibat. Meski tak pernah ada seremoni pengesahan, penggemar kopi dan pelaku kopi di Jogja mafhum bahwa Kai adalah salah satu yang terpenting di dunia kopi Jogja.

Menurutku, hanya ada empat nama yang dapat disejajarkan dengan Kai. Nama pertama adalah Zak dari ‘Tepian di Barat Sungai’. Berikutnya adalah Nik dari kedai ‘Rumpun Bambu Utara’. Kemudian Zika dari ‘Bersemi di Timur’ dan terakhir Fay dari ‘Kirana di Tenggara’.

Kelak sejarah akan menulis bahwa kelima orang itu akan memiliki sebuah andil besar atas gelombang perubahan. Aku akan menuliskan mereka satu persatu-satu.

Hari ini adalah kamis. Kalender menunjukkan tanggal 4 Juni 2020. Di suatu sudut, aku mengingat dan menyusun tulisan tentang mereka.

Sebuah catatan perjalanan orang-orang kopi.

Malang, Kota Keakraban (1)

Tidak banyak, namun terus memberikan kesan. Kiranya, kalimat itu menggambarkan kedekatan saya dengan Kota Malang. Terutama beberapa orang yang kemudian dipertemukan dengan saya oleh cara kerja semesta yang penuh rahasia.

Saya ingat, alasan awal saat saya memutuskan pergi ke Malang adalah saat saya putus asa dengan proses bermusik di kampus. Malam hari, saya menghubungi teman saya satu angkatan, Indra, menanyakan bus apa yang bisa saya tumpangi untuk menuju ke Malang. Secara kebetulan, rupanya malam itu Indra berencana pulang ke Malang. Bebarengan dengannya, pukul 12 malam kami naik bus dari terminal Giwangan. Sesampainya di sana, saya sempat diajak mampir ke rumah Indra. Disambut hangat Ayah-Ibunya. Ditraktir rawon dan diantar ke tempat yang saya ingin tuju.

*

Pulau Sempu. Itulah tempat yang akan saya tuju. Waktu itu hari Jum’at. Saya sampai di lokasi penyebrangan usai ibadah sholat Jum’at. Tentu saja, saya tidak sholat. Sembari menikmati rokok, munculah 4 orang pemuda berjalan kaki menuju penyebrangan.

Dengan agak ragu, saya menghampiri mereka kemudian bertanya,”Bolehkah saya turut gabung untuk penyebrangan menuju Pulau Sempu? – walau tampak terkejut dengan pertanyaan saya, namun seketika itu pula mereka menyambut hangat saya dan mengijinkan saya turut berbagi perahu untuk menyebrang ke Pulau Sempu.

Sesampainya di Pulau Sempu, kami berlima menjadi teman perjalanan menuju ke Segara Anakan. Sayangnya, saya hanya mampu mengingat dua nama dari keempat lelaki itu, Fery dan Bibin.

Medan yang dilalui cukup berat, karena tanah becek yang mampu menelan kaki kita hingga mata kaki sehingga banyak sepatu ditinggalkan oleh pengujung Pulau Sempu sebelumnya. Sepanjang perjalanan, Fery dengan gaya menonjol jenaka yang khas bernyanyi :” Aku tersesat dan tak bisa bangkit lagi!” – Duh, perasaan saya mulai tak enak. Namun, urung menegur karena saya merasa baru kenal sekaligus sudah numpang berbagi perahu.

Bayangkan, di hari Jum’at, tak sembahyang Jum’at, pergi ke Pulau Sempu yang hutannya masih lebat, dan nyanyian “Aku tersesat” yang berulang kali didendangkan dengan ringannya, serupa mantra dan dimensi yang akan membuat pikiran-pikiran negatif saya bermunculan. Maklum, sepanjang saya melakukan pendakian gunung di Jawa Tengah, saya selalu diajarkan oleh senior-senior saya untuk hormat kepada alam dan penghuninya, termasuk makhluk tak kasat mata.

Firasat tak baik perlahan merambat saat langkah kaki mulai terasa lelah bersamaan dengan arah-arah cahaya mulai tenggelam. Saya kembali mengingat beberapa blog yang saya baca, bahwa perjalanan ke Segara Anakan dapat ditempuh kurang lebih 2 jam. Jalan setapak yang kami lalui semakin sepi. Sepi dalam arti mulai tak banyak tanda-tanda orang melewati seperti sampah, jejak kaki, dan hal-hal yang datang dari peradaban.

Debur ombak mulai terdengar. Meski dengan rasa curiga, namun semangat kami mengembang. Terasa dari kecepatan langkah kaki yang memburu agar lekas sampai di tempat yang kami tuju. Hingga kemudian ….

**

“Kok tak ada orang?” kata salah satu dari kami.

“Kok pantainya beda?” Seseorang menimpali.

Semuanya terpaku. Masing-masing menyadari bahwa kami tersesat. Benar-benar tersesat! Bukan lagi nyanyian yang diulang-ulang oleh Fery. Kekalutan mulai melanda, Bibin mencoba menelpon ayahnya. Tentu saja, tak ada sinyal! Lalu ia mengajak untuk balik jalan mencari kembali Segara Anakan.

Matanya mulai berair. Ini momen lucu di kala kekalutan mulai semakin membesar. Saat itu saya bilang ke mereka,”Saya capek. Saya akan bikin tenda di sini. Besok pagi saja kita melanjutkan pencarian. Sudah gelap, terlalu riskan dan kepanikan justru akan memperburuk keadaan.” (Padahal, hati saya juga bergetar panik)

Usul saya diterima. Kami mendirikan tenda. Memasak makanan. Dan lelap tertidur. Memang ada pengalaman menarik, entah gaib entah hewan dari hutan, tapi semua menyadari, pukul 1 pagi itu ada yang mondar-mandir di depan tenda kami.

Singkat cerita kemudian pagi harinya kami berhasil bertemu Segara Anakan. Secara bersamaan, saya tahu dari warga setempat lokasi tersesat kami itu namanya Pantai Kembar Satu. Momen tersesat itu justru menjadi momen terpenting yang menjadikan cikal bakal persahabatan saya dengan Fery. Semua dimulai dari Pulau Sempu, sepulangnya, mereka mengajak saya tinggal di kos Fery, dekat Universitas Muhammadiyah Malang. Dari sana kami menjadi akrab dan dekat. Saya diantar ke berbagai tempat makan dan wisata. Mereka menyambut saya dengan kehangatan seperti saudara-saudara jauh. Pertemanan saya dengan Fery berlanjut hingga kemudian hari yang akan saya tuliskan nanti.

***

Perkenalan saya dan rasa penasaran saya tentang Malang sebenarnya dimulai dari cerita fiksi. Sebuah novel yang saya baca di tahun 2010, pasca erupsi Gunung Merapi memberi kesan mendalam.

Adalah Tante Wijang, tokoh fiksi dalam novel Puthut EA yang berjudul,”Cinta Tak Pernah Tepat Waktu”. Tante Wijang memegang peranan penting bagi proses penyembuhan badai kenangan tokoh utama yang berprofesi sebagai penulis. Seorang perempuan telah meninggalkan tokoh utama, tanpa diduga, di kala masa-masa untuk menggapai impian, hingga membuat patah hatinya dan kenangannya mampu memporak-porandakan kepercayadiriannya.

Saat itu usai membacanya, saya merasa kota Malang hangat dengan kehadiran Tante Wijang, yang notabenenya adalah Tante dari mantan pacarnya tokoh utama. Ia mengajari bagaimana tokoh utama menghadapi kenyataan, lebih kuat menghadapi badai kenangan dan bersama-sama berlatih yoga juga pernapasan.

Bagaimana mungkin kota yang konon dingin cuacanya, namun justru terasa hangat dari pribadi-pribadi di dalamnya? – Pertanyaan itu mengambang, namun dengan jelas membuat garis sebuah tujuan bahwa kelak saya perlu untuk mengunjunginya!

***

Kisah tentang Malang dan penghuninya juga tak terhenti sampai di kisah fiksi. Saya pernah terhenyak trenyuh membaca tulisan Cak Nun yang berjudul Presiden Malioboro.

Tulisan itu berkisah tentang Umbu Landu Paranggi. Satu-satunya orang yang pernah dijuluki sebagai Presiden Malioboro. Lagi saya menemukan kota Malang tertulis di tulisan Cak Nun. Dan bukan main! Kisah asmara Umbu, penyair yang lebih dikenal dengan hidup sufi, menjadikan dirinya sebagai kehidupan berpuisi, menjauhi ketenaran, dan guru bagi Cak Nun, Ebiet G Ade dan nama-nama berpengaruh baik di kehidupan masyarakat.

Kisah singkat tentang Umbu yang jatuh hati dengan salah satu Mahasiswi ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang berasal dari Malang. Cak Nun menulis bahwa Umbu meminta Cak Nun untuk membelikan tiket ke Malang. Sesampainya di Malang, rupanya Umbu hanya melewati rumah gadis pujaannya, tanpa berani menoleh untuk kemudian balik lagi dan kembali ke Jogja segera! Haaa!!

Betapa mungkin ada manusia yang begitu menghargai desir-desir rindu, detak jantung menderu, rasa bahagia meski hanya melewati tempat tinggal seseorang yang dikasihinya!

Kota itu Malang, dan di beberapa kesempatan Maiyah, Cak Nun bercerita kembali lengkap alamat gang, nomor rumah, dan bentuk rumah gadis pujaan hati Umbu.

Betapa hangatnya Malang. Aku akan mengujunginya kelak.

Sebuah Kasih dari Kisah Warna

Aku Persembahkan Untuk Oprid

Si kecil itu bergerak riang. Tubuhnya ringan hingga ia dapat melayang. Senyumnya mekar bersamaan sepoi angin mencoba menerbangkan rambutnya yang ia potong pendek. Sebanyak itu angin menghelanya, sejumlah itu pula bibirnya tertarik untuk menandai betapa ia bahagia.

Teman-temannya mengenalnya sebagai pribadi yang menyenangkan. Bersama dengannya secara alami menumbuhkan suasana riang dan nyaman. Meski dalam diam, ia selalu punya cara untuk membidani keseruan. Itu sebabnya, teman-temannya sayang sekali dengannya. Tak terkecuali Dewi Sri.

Pertemuan dengan Dewi Sri terjadi saat Si Kecil melayang menyusuri pelangi sembari menikmati rintik hujan. Sang Dewi yang duduk di awan putih dan sedang menaburkan kristal-kristal berinti air dan sejumlah cahaya dan warna-warni. Tertarik dengan warna-warni itu, Si Kecil melayang menghampiri Sang Dewi.

Ia menyapa Dewi Sri.

“Hai, kamu sedang apa?” – Pertanyaan ini dilontarkan Si Kecil dengan nada ketulusan dan rasa keingintahuan.

Dewi Sri menjawab : “Aku sedang menaburkan kristal hidup cahaya agar jatuh ke bumi. Dari kristal ini, maka suburlah tanahnya dan tumbuhlah tanamannya.”

Dari permulaan percakapan ini, akhirnya keduanya menjadi akrab. Dewi Sri, Sang Dewi Kesuburan itu senang berkawan dengan Si Kecil, terutama karena senyum Si Kecil yang khas dan selalu merekah. Persis seperti bagaimana cara bunga mulai merekah, kenang Dewi Sri.

Dewi Sri memperkenalkan aneka warna tumbuhan dan ragam nama dan bentuknya. Dengan baik, Si Kecil menyimpan setiap pengetahuan diingatannya. Sang Dewi juga mengajaknya menyusuri langit biru yang luas, merasakan mentari pagi dengan dekat, mengamati makhluk hidup selain manusia, seperti gajah, kucing dan burung-burung. Semua diingat dengan baik oleh Si Kecil.

Bilamana sepulang berjalan-jalan, Si Kecil akan menuangkan ingatan-ingatannya tentang warna, tentang bentuk, tentang rasa melalui kanvas dan cat. Maka setiap satu perjalanan ditempuhnya, sebuah lukisan terkreasi dari pengamatan dan olah rasa dari perjalanannya.

Si Kecil melukis, memberi warna, dan menggoreskan segaris senyum yang merekah di tiap-tiap karyanya. Warna yang cerah dan riang! Membawa perasaan petualang.

**

Suatu hari di Jakarta, Pelangi mengetuk pintunya. Warna-warni yang dipercayai sebagai selendang para dewi itu menunggu Si Kecil membukakan pintu. Garis memanjang warna-warninya benar-benar sampai ke permukaan bumi untuk kali pertama, sedang garis warna yang menjorok ke langit, tak terukur seberapa jauhnya, terutama karena keterbatasan mata manusia.

Si Kecil membuka pintunya. Dengan hati riang, merekahlah senyum saat melihat Pelangi datang. Langkahnya ringan menapaki jalan warna-warni yang akan membawanya ke langit. Perlahan, bersama satu demi satu langkah Si Kecil, garis warna-warni pelangi mulai surut dari permukaan bumi, memudar dan menghilang.

Kanvas sudah diwarnai. Lukisan-lukisan telah terpajang di dinding. Teman-temannya mengerti, betapa ia memperoleh tempat di masing-masing hati. Bahwa ia, berarti dan merupakan inspirasi. Dan di perjalanannya menyusuri warna-warni Pelangi, telah menciptakan rongga kehilangan di dada setiap yang berkesempatan mengenalnya akrab.

Semoga warna-warnimu adalah cahaya bahagia yang akan menjadi teman baikmu selalu di-sana. Damai dan berbahagia. Sampai bertemu lagi Oprid.

Hening

Semua hiruk pikuk ini serupa pesta

Sekilas datang untuk kemudian pergi

Pesta bukannya tiada punya arti. Sebelum perayaan selalu ada persiapan-persiapan. Bahwa kita selalu kecolongan peristiwa, di mana bunga-bunga mekar menjadi buah. Kita hanya tahu kemudian, buah telah menggantung di ruas batang dan sedikit waktu akan tiba saatnya masak untuk kemudian pesta kehidupan terselanggara.

Kalau kamu sedang merasa sunyi, mempertanyakan hal-hal yang kamu lalui, merasa jenuh dengan hidup dan lingkungan yang terkesan tak memiliki arti, maka selamat! Kamu sedang tumbuh menjadi ….

Segala baik disaripatikan diintisarikan dengan cara yang paling sunyi. Persis seperti cara pohon di sudut yang membuahkan belimbing.

Jarak Waktu Zaman

Foto Oleh Albertus Barcelona

Baru beberapa sore berlalu percakapan hangat dengan Drg. Sara Anindito. Saya ingat beliau bercerita tentang burung pipit untuk memberikan analogi tentang rezeki yang sudah dirawati oleh ‘Yang Maha Memberi’.

Bila hari telah menjerang matahari, orang menyebutnya mentari. Berterbangan makhluk-makhluk dengan kepak sayap kecil yang sayup tanpa bunyi ke beberapa penjuru mata angin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak jumlahnya, terbang menuju tempat-tempat yang kiranya berdasar naluri dan pemikiran mereka bakal diperolehnya biji-bijian untuk menjadi hidangan makanan.

Dan Tuhan, Kata Drg. Sara, merawat setiap rezeki mereka satu demi satu, dari hari ke hari, dari hari sebelum mereka membuka mata, dengan hati-hati, dengan seksama agar tak ada satupun yang terlewatkan.

“Kemudian bila sore menjelang, apakah mereka tak kembali pulang?” tanya Drg. Sara. – Burung-burung pipit itu pulang, menyadari secukupnya kebutuhan. Untuk kemudian esok mengulangi kembali serantai pekerjaan.

*

Foto Barcel ini menggambarkan suatu nafas kehidupan sehari-hari. Bahwa ada rangkaian hidup tentang orang-orang yang berpencar mencari rezeki. Bahwa kemudian konsepsi rezeki itu dapat kita tafsirkan aneka ragam rupanya.

Lihatlah dua anak SMA berbonceng yang salah satunya mengenakan jaket warna oranye tertangkap lensa Barcel. Di jam sore seperti dalam foto ini, mereka usai menunaikan rezekinya menimba ilmu yang kelak dapat berguna untuk menafkahi hidup mereka sendiri. Sebuah kepulangan dari rezeki menimba ilmu.

Lain cerita lagi dengan Bapak Ojek Online. Barangkali beliau sedang memperoleh pesanan dan bergegas menuju tempat sesuai arahan aplikasi perusahaan ia bekerja. Ia sedang menunaikan rezeki.

Sedang di antara semua obyek yang ada di foto ini, Barcel tampak memberi fokus dan penekanan kepada tukang becak yang sekiranya pengamatan saya adalah tokoh utama dari keutuhan foto yang ingin Barcel sampaikan.

**

Berbicara tentang becak, maka saya akan berbicara obyek lain yang mendukung kehadirannya di dalam foto. Obyek lain sebagai latar pendukung becak adalah sepeda motor dan mobil. Dimensi yang akan dicapai dari komposisi ini adalah dimensi waktu dalam satu ruang. Saya juga tidak ingin memisahkan sebuah kenyataan waktu, bahwa ada satu obyek pendukung yang menjadi sebab komposisi ini dapat tercapai. Maka kemudian kita akan menyebut kereta api yang sudah melewati garis waktu lensa.

Ketiga pendukung ini, sepeda motor, mobil, dan kereta menjadi titik dimensi waktu apabila disandingkan dengan becak. Ada pergerakan, ada nilai, ada budaya, ada sejarah, bahkan lebih jauh ada suatu cakupan nilai pendidikan sekaligus nilai ekonomi.

Tatkala memandang becak dengan pengayuhnya yang paruh baya beralas sendal jepit di suatu sore yang sendiri di antara ramai deru mesin seusai kereta bergegas meninggalkan palang pembatas maka pertanyaannya saya ialah :

“Hai, Bapak. Bagaimanakah rezekimu hari ini? Sudahkan tuntas?”

“Akan ke mana Bapak? Apakah engkau hendak beranjak pulang?”

***

Dalam foto Barcel ini pula, boleh pula kita tafsirkan tentang sebuah prakiraan yang tak luput dari keprihatinan. Misal saya bayangkan bahwa dalam batin Barcel berkata,”Akan sejauh mana nasib becak sebagai transportasi ketika dewasa ini transportasi semuanya bertenaga mesin dan untuk mengakses transportasi orang sudah bermodalkan gawai.

Atau, persepsi lain yang dapat saya kembangkan ialah apakah kemudian Bapak Tukang Becak tersebut dapat bersaing dalam mencari rezeki ketika di masa foto ini transportasi lain jauh lebih cepat daripada kayuh kaki Si Bapak?

***

Tapi siapa kira dalam satu bingkai foto yang Barcel kirimkan ke saya ini dapat menafsirkan sebuah kenyataan penting bahwa di semua yang tertangkap lensa Barcel yaitu ia yang paling dirugikan adalah Bapak Tukang Becak.

Bukan soal rezeki dan berebut rezeki. Tapi soal ia harus juga memperoleh polusi udara dari semua kendaraan di sekelilingnya di tengah nafasnya yang naik-turun karena upaya mengayuh pedal becaknya.

Bukan soal rezeki dan berebut rezeki. Tapi soal ia harus dengan sabar mengacuhkan deru bising suara mesin dan knalpot di sekelilingnya tatkala dari kayuhnya hanya bunyi serentet gesekan yang lirih seperti suara bambu yang terhela angin di siang hari.

Ironi.

Tujuh Puluh Tiga

Di usia 73, aku dan kamu harus mulai berbicara. Tentang bagaimana cara agar senja sampai di pelataran tetangga-tetangga kita. Apakah arif menghalagi seberkas cahaya emas jingga semesta dengan gedung-gedung tinggi untuk kepentingan diri sendiri?

Di usia 73, kita harus mulai memutuskan. Tentang bagaimana cara kita mandi di sungai seperti dulu kala. Sering aku mengajakmu memandangnya dari jembatan kecil penghubung desa. Namun setelah kedua kalinya kita ke sana, kamu tak lagi berkenan bila tawaran kualamatkan. Katamu, sungai terlampau bau, sampah tergenang di mana-mana.

Di usia 73, kita harus berani merumuskan. Tentang bagaimana kita dapat memperoleh belut secara cuma-cuma, ketika kini sawah sudah tunai tak lagi permai dan hilang bersimpul kenangan. Tanpa belut, di mana pula kita menanak nasi?

Di usia 73, banyak hal semakin kita tak mengerti. Tentu kita mencoba terus memahami, namun seperti katamu dulu, langkah kita kecil-kecil, dan nafas kita butuh kerja tiga kali. Secara pasti kita jauh tertinggal dari kenyataan-kenyataan sehari. Dari kegemelingan masa kini. Tapi aku tak lupa mengusap rambutmu, sambil serupa doa pelindungmu aku berpesan,”selalu hati-hati.”

Di usia 73, kita harus dapat selalu pastikan, bahwa pupuk terbaik sudah disediakan untuk sebuah generasi. Matahari kita sudah hampir tenggelam, dan kepada mereka semoga kelak mekar kesadaran untuk merawati kearifan-kearifan kerukunan.

Puji syukur untuk sebuah negeri. Yang mana telah ditumbuhkannya kita sebagai padi. Yang merunduk kemudian mati.

Dirgahayu.